G a l e r i

Pelantikan Pengurus HMI Cabang Kediri periode 2011-2012

G a l e r i

Raker Pengurs di Air Terjun Sedudo Nganjuk

G a l e r i

Wisuda Penguus HMI Cabang Kediri periode 2011-2012

G a l e r i

Kajian Rutin bersama alumni HMI

G a l e r i

Audiensi Pengurus HMI bersama Bupati Kediri

G a l e r i

Aksi Peringatan Hari Pancasila di gedung DPRD Kota Kediri

G a l e r i

Training of Trainers (TOT) NDP HMI Cabang kediri

G a l e r i

Kongres PB HMI XII Depok

G a l e r i

KONFERCAB XXX HMI Cabang Kediri

Keseriusan dalam menjalin hubungan

Hasil Kajian Komisariat Tarbiyah Oleh Kanda Bahruddin, M.Pd. (salah satu dosen STAIN Kediri); Keseriusan dalam menjalin hubungan pasti didambakan setiap pasangan. Melihat senyumnya, tawanya, dan sentuhannya menjadi sesuatu hal yang sulit dilupakan saat menjalin hubungan serius. Tapi sudah seriuskah pasangan kamu?
Menjalani hubungan yang serius demi menggapai masa depan yang baik membutuhkan kerjasama antara dua pihak, kamu dan dia. Jika hanya serius dari kamu saja, hubungan itu akan berantakan dan akhirnya kamu putus, bahkan ujung-ujungnya saling benci.
Ingin tahu seberapa serius teman kencan Anda untuk melanjutkan hubungan? Cara terbaik untuk mengetahuinya bukan bertanya langsung padanya. Sebab, mungkin tidak pantas karena Anda berdua belum benar-benar resmi pacaran. Namun ada beberapa cara mudah untuk mengenali tanda-tanda apakah dia benar-benar menginginkan hubungan asmara ini berlanjut ke arah lebih serius. Berikut 10 Cara Mengetahui Keseriusan Pasangan Anda:
  1. Kurang Kontak Fisik. Ini berlaku untuk pria maupun wanita. Kontak fisik seperti memegang tangan, lengan, bahkan melingkarkan tangan pada pinggang, bisa menjadi tanda dia benar-benar menaruh hati pada diri Anda. Sebaliknya, bila dia selalu menjaga jarak atau melipat tangan di depan dada dan menghindari kontak mata dengan Anda selama kencan, maka ini bisa dimaknai bahwa dia tidak punya perhatian, mungkin juga tidak serius pada masa depan hubungan.

  2. Dia Tidak Membuat Rencana Masa Depan. Jika setelah berhubungan cukup lama dan si dia tak kunjung membicarakan kelanjutan hubungan, bisa jadi ia belum mau serius. Ia masih ingin menjalani hubungan secara santai dan tanpa beban.

  3. Dia Tak Mengenalkan Keluarganya. Mengenalkan keluarga dekat, bagi pria adalah suatu langkah awal untuk mendekatkan pasangannya. Jika hal ini tak kunjung dilakukannya, bisa jadi ia belum ingin membawa hubungan ke arah yang lebih serius.

  4. Selalu Mengelak Diajak Ke Acara Keluarga. Saat ada acara keluarga, adalah hal wajar jika kamu sebagai kekasih mengajaknya untuk ikut serta. Apabila ia selalu mengelak dengan berbagai alasan dan itu terjadi berkali-kali, ini adalah tanda kalau ia belum ingin mendekatkan diri dengan keluarga kamu. Artinya dia belum ingin berbicara serius dengan keluarga kamu.

  5. Selalu Mengajak Bersenang-senang. Hubungan memang akan terasa sangat menyenangkan. Itu karena ia akan selalu ada untuk mengajak bersenang-senang. Hal ini seperti pisau bermata dua. Ia memang akan selalu menyenangkan karena tidak pernah membuat kamu dalam situasi yang serius terkait pembicaraan soal kelanjutan hubungan. Jadi, hati-hati terjebak dalam kesenangan yang dibuatnya.

  6. Menghindari Panggilan Telepon. Salah satu indikator si dia ingin serius dengan Anda ialah menghubungi Anda lewat telepon atau SMS setelah kencan. Terkadang, dia selalu mencari-cari alasan agar bisa mengontak Anda. Bila Anda berdua ada kecocokan, biasanya akan melakukan percakapan lewat saluran telepon yang seolah-olah tiada akhir. Tapi, bila ini tidak terjadi pada hubungan Anda -padahal Anda sudah berinisiatif untuk memulai komunikasi- mungkin dia bukan seorang pria yang tepat.

  7. Keluarga dan Teman-Teman. Apakah dia bersedia memperkenalkan Anda kepada keluarga dan teman-temannya. Jika teman kencan Anda menghindari hal ini, maka itu menandakan dia tidak benar-benar serius ingin menjadikan Anda sebagai pendamping hidupnya.

  8. Apakah Dia Mengkritik Anda Terus?. Salah satu tanda yang paling jelas bahwa dia tidak menyayangi Anda ialah bila dia selalu mengkritik Anda di setiap kesempatan. Bahkan, hal-hal kecil, seperti cara Anda berpakaian, rias wajah, jilbab, pilihan Anda tentang buku atau film, bisa dipermasalahkannya.

  9. Komunikasi Intens. Pasangan yang serius biasanya ditandai dengan adanya komunikasi intens. Tak hanya saat merasa butuh bantuannya, tapi juga ketika waktu luang. Pasangan yang serius cenderung akan berkomunikasi di setiap kesempatan.

  10. Ekspresi Cinta. Ungkapan cinta melalui kata-kata atau perbuatan bukan hanya miliki pasangan baru. Mereka yang sudah menjalin hubungan yang cukup lama juga membutuhkannya. Ini penting untuk menjaga hasrat dan keharmonisan asmara.

Polisi Serbu Markas HMI Cilosari Jakarta



HMI, (News-Online) : Aksi Brimob yang represif dan menyerbu markas HMI Cilosari Jakarta sudah melampaui batas, apalagi mereka melakukan aniaya dan tindakan brutal yang mencederai berat para aktivis HMI dan mahasiswa Jabodetabek yang berdemo menolak kenaikan harga BBM. Menurut para aktivis HMI, ini harus dilawan dan digugat ke pengadilan agar polisi tahu diri dan tidak berani melanggar konstitusi lagi. ''Kalau perlu polisi Brimob itu diajukan semua ke pengadilan dan dicopot jika terlibat aniaya mahasiswa, mereka itu utang budi sama mahasiswa yang membuat Polri dan TNI dipisahkan secara kelembagaan,'' kata para aktivis HMI CIlosari, dengan dukungan moral  aktivis ITB 1977-78 Miming Abdurachim dan Bang Fredy, senior KAHMI.
Pada Kamis (15/3) dini hari. tiga orang mahasiswa HMI ditangkap di Sekretariat HMI dan diperiksa di Mapolsek Menteng. Ini baru pertama terjadi, sebab orde Baru saja tidak berani mengirm polisi menyerbu markas HMI Jakarta di Cilosari. Tindakan polisi yang ngawur itu mencoreng rezim SBY dan membuatnya jadi sasaran keras demo mahasiswa yang menolak Neoliberalisme dan naiknya BBM di tengah korupsi rezim SBY yang menggila.
Aksi biadab polisi itu membuat HMI seluruh cabang di Indonesia marah dan mendesak Kapolri memberi sanksi kepada kapolres  setempat yang membawahi kawasan CIlosari Jakarta itu, bahkan Kapolri terkena imbasnya didesak mundur oleh para aktivis mahasiswa yang kesal dan kecewa dengan tindakan biadab polisi.
Polisi sudah membantah terlibat pemukulan mahaiswa HMI di Cilosari dan aktivis mahasiswa lain yang tergabung dalam aksi Rabu kemarin, namun itu tak cukup dan tindakan itu hipokrit. Polisi harus bertanggung jawab, kata aktivis HMI. M Ridwan.
Selain melakukan pembubaran, polisi juga melakukan penangkapan atas tiga orang aktivis yang berdemo. Penangkapan itu terjadi di Sekretariat HMI.
Terkait dugaan tindak perusakan terhadap buku-buku di markas HMI Cilosari, polisi mengatakan kejadian itu sangat situasional. "Polisi melakukan hal tersebut lantaran situasi saat itu memaksa petugas melakukan tindakan tersebut."
Kalangan HMI sepakat akan menuntut ke pengadilan para polisi yang menganiaya mahasiswa di CIlosari, agar tak terulang lagi di masa datang(ac) lihat sumber

REFORMASI MENTALITAS KADER HMI (REFLEKSI MILAD HMI KE-65)

Oleh: BASHLUL HAZAMI  


Tulisan ini kiranya hanyalah ungkapan sederhana yang ingin penulis sampaikan dalam rangka memperingati milad HMI yang ke-65 sejak kelahirannya tanggal 5 Februari 1947 yang diprakarsai oleh Prof. Lafran Pane. Angka 65 tentu bukanlah angka yang kecil, artinya fluktuasi dinamika hingga puluhan tahun menjadi pengalaman tersendiri dalam keeksistensiannya menghadapi lika-liku perjalanan organisasi ini. Terangnya, semakin tua usia suatu organisasi semakin matang dan mantap pula kesiapan untuk menghadapi tantangan dan problematika yang semakin kompleks dewasa ini.
Terasa sangatlah kurang rasanya jika momen ini hanyalah digunakan sebagai formalitas kegiatan dan seremonial belaka. Menurut hemat penulis, milad ini haruslah menjadi momentum sakral, yakni sebagai momentum untuk refleksi bersama, berfikir sejenak memahami realitas faktual yang hinggap di tubuh HMI saat ini dengan tetap berekspektasi adanya kebangkitan dan perubahan signifikan dari organisasi ini. Refleksi ini adalah manifestasi rasa cinta kasih kepada organisasi yang turut andil dalam perjalanan hidup penulis yang kebetulan masih aktif menempa diri di HMI sebagai sikap optimis untuk turut menuangkan gagasan dalam membenahi organisasi ini secara bersama-sama. Refleksi ini haruslah dijadikan sebagai road map untuk menenggelamkan dan mengubur segala bentuk keterbelakangan dan kemunduran HMI yang hinggap saat ini menuju kemajuan dan kejayaan dalam menyongsong kehidupan yang lebih beradab dan bernilai.
Dalam konteks kehidupan yang bernilai, penulis melakukan pemilahan menjadi dua: Pertama, bernilai secara internal, yakni dinamika di dalam tubuh HMI haruslah menjadi piranti perkaderan, menjadi instrumen kesadaran bagi setiap anggota untuk menempa diri, membentuk karakter dan mentalitas kepribadian yang tangguh. Berani mengeksploitir diri untuk kebaikan pribadi dan anggota lainnya. Dan berhenti mengeksploitir diri karena penghambaan terhadap sesuatu yang nilainya lebih rendah, yakni karena pamrih dan menghilangkan unsur keikhlasan. Keikhlasan menjadi sarana untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, sebelum yakin usaha sampai untuk mewujudkan kemajuan dalam segala bidang, modal awal kader HMI dalam mengarungi segala bahtera dinamika dalam ber-HMI adalah bersyukur dan ikhlas di dalam berorganisasi. Sebagaimana bait awal yang ada di dalam lirik lagu Hymne HMI, Bersyukur dan Ikhlas, Himpunan Mahasiswa Islam, dan seterusnya, karya R.M. Akbar dari HMI Cabang Medan. Kedua, bernilai secara eksternal. Nilai ini merupakan kaidah yang tidak hanya menuntut kader HMI untuk mengabdikan diri kepada masyarakat yang lebih luas. Tetapi juga karena ini memanglah sudah menjadi kewajiban bagi kader HMI untuk menyebarkan dan memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan di dalam sendi-sendi kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Inilah cita-cita kader HMI untuk menjadi kader umat dan kader bangsa.
Dibalik itu semua, keadaan di lapangan ternyata tidak serta merta selalu manis dan elok seperti yang diidam-idamkan. Dari dinamika yang ada, antara baik dan buruk, pujian dan hinaan, manis dan pahit, hingga maju dan mundur silih berganti mengisi relung perkaderan di dalam tubuh HMI.
Pasca reformasi dan memasuki post-modern, degradasi yang terjadi di dalam jasad HMI tidak dapat dipungkiri adanya. Hal ini diperkuat oleh fakta-fakta yang menunjukkan kemunduran dan kemelorotan HMI yang disampaikan secara jelas dan terang oleh Prof. DR. Agussalim Sitompul (2005) dalam buku 44 Indikator Kemunduran HMI. Penyelidikan dan pembacaan kritis mengenai realita faktual oleh sejarawan HMI ini, kiranya akan sangat tidak berguna dan mubazir manakala tidak ada tindak lanjut yang pasti dan langkah kongkrit oleh kader-kader HMI.
Selain itu, kader HMI yang semestinya menjadi contoh baik dan tauladan bagi masyarakat luas, kini malah melakukan perbuatan yang tidak etis. Hal ini terbukti sebagaimana kasus pemukulan yang dilakukan oleh oknum fungsionaris PB HMI terhadap anggota Badan Pengelola Latihan (BPL) PB HMI berdasarkan pernyataan dari saudara Ahlan El- Faz (Anggota BPL PB/ teman korban) yang penulis temui 25 Desember 2011 kemarin. Ahlan mengatakan insiden pemukulan itu bermula ketika anggota BPL yang bertugas tidak meluluskan oknum tersebut dalam screening (penyaringan) calon peserta Advance Training (LK3) yang diselenggarakan oleh Pengurus HMI Badan Koordinasi (Badko) Jabodetabeka-Banten. Insiden ini sangatlah tidak pantas dilakukan oleh kader HMI, lebih-lebih yang melakukan tindakan yang tidak pantas ini adalah fungsionaris PB HMI yang notabene adalah sosok yang menjadi tauladan adik-adiknya, baik di kepengurusan Badko, Cabang, Korkom maupun di Komisariat. Selain itu ironisnya lagi oknum calon peserta LK3 itu mungkin tidak memahami bahwasanya tujuan diadakannya LK3 adalah untuk menelurkan kader-kader pemimpin yang mampu menerjemahkan dan mentransformasikan pemikiran konsepsional secara profesional dalam gerak perubahan sosial.
Yang tidak kalah mengejutkan, seperti yang diwartakan berita online, Kompasiana 27 Januari 2012, Ketua Umum PB HMI menzinai kader Kohati. Ini adalah berita yang menyakitkan hati kader HMI, sebagaimana pesan yang disampaikan oleh Mantan Ketua Umum PB HMI 1976-1979, Chumaidi Syarif Romas kepada penulis melalui short message service (sms). Hal ini tentu menimbulkan reaksi keras dari beberapa kalangan, baik dari anggota HMI maupun alumninya, Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI). Masalah ini tentu bukanlah masalah biasa. Jangan sampai masalah ini berlangsung secara berlarut-larut yang sudah barang pasti akan menambah banyak daftar penyakit yang hinggap dan mencederai organisasi ini. Semua komponen yang peduli akan organisasi ini tentu berharap agar masalah ini cepat reda dan organisasi ini bisa eksis kembali ke dalam fungsinya sebagai organisasi perkaderan dan perannya sebagai organisasi perjuangan, yang memperjuangan kebenaran, keadilan dan kebaikan dalam sendi-sendi kehidupan.
Telisik lebih dalam atas permasalahan ini, penulis berpendapat bahwa penyebab terjadinya kemunduran di HMI sekarang ini adalah karena terjadi penempatan posisi yang kurang pas dalam struktur kepengurusannya, baik dari tataran PB sampai tingkatan komisariat.
Hal ini mengakibatkan mandulnya program kegiatan yang positif dari berbagai bidang. Terjadinya kontrak-kontrak politik dan sistem kepemimpinan transaksional dalam pemenangan calon ketua umum baik pada saat kongres, musda maupun konfercab disinyalir sebagai penyebab memudarnya konsep “The right man on the right place” dalam sebuah organisasi yang menginginkan output yang berkualitas. Menurut Adam Ibrahim Indrawijaya (2010) dalam bukunya Teori, Perilaku, dan Budaya Organisasi: yang demikian itu adalah suatu bentuk konflik yang terjadi di dalam kelompok. Konflik ini biasa dikenal dengan konflik fungsional. Penyebab munculnya konflik ini adalah karena “task or goal incompatibility” atau karena adanya ketidakcocokan tugas atau tujuan yang harus dicapai.
Kesinambungan dan keterkaitan struktur kepengurusan terhadap berjalan atau tidaknya suatu organisasi merupakan suatu entitas yang mengharuskan adanya interaksi atau hubungan antara satu dengan lainnya. Hubungan antara satu dengan lainnya di dalam organisasi inilah yang disebut sebagai sistem. Sebagaimana pengertian sistem yang dikemukakan oleh J. H. R. Van De Poel: “… Systeem een verzameling elementen waartussen relaties bestaan” (Sistem-kumpulan elemen yang saling berinteraksi satu sama lainnya) (J. Winardi, 2004).
Apabila ditarik ke dalam HMI, sistem merupakan sebuah kesatuan dengan sejumlah komponen yang saling berinterelasi antara pengurus dengan pengurus yang lain, atau antara pengurus dengan anggota dimana perimbangan dan koordinasinya merupakan kunci bagi upaya memaksimalisasi kinerja pengurus dan mengoptimalisasi efisiensi secara keseluruhan dalam mewujudkan tujuan HMI.
Setelah memahami kondisi kekinian di HMI, tugas selanjutnya adalah keharusan mengadakan pembenahan yang sitematis mulai dari sekarang agar kedepannya HMI tidak semakin terjebak dan tertidur pulas dalam kubangan lumpur. Manakala ini tidak segera diperbaiki, maka bukan tidak mungkin HMI akan semakin tenggelam dan terpelosok ke jurang keterbelakangan.
Singkatnya, mentalitas kader HMI sekarang harus ditata ulang dan diformulasikan kembali. Pola pikir yang terlalu mengagungkan materi dan duniawi an sich harus diubah menjadi paradigma yang mengedepankan terbentuknya kepribadian yang tangguh dan responsif terhadap dinamika perubahan sosial yang ada serta profesional dalam mengemban amanah untuk muwujudkan masyarakat yang adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.
Sebagai penutup, semoga peringatan milad ini menggugah kita semua untuk berikhtiyar mewujudkan kedinamisan dan memunculkan kembali masterpiece (adikarya) baru yang lahir dari rahim HMI sebagaimana prestasi-prestasi yang ditorehkan abang-abang kita dahulu sejak HMI dilahirkan. Jayalah dan Dirgahayu Himpunan Mahasiswa Islam. Bahagia HMI! 


Penulis adalah Aktivis HMI Cabang Kediri/ Mahasiswa Ekonomi Islam STAIN Kediri