REFORMASI MENTALITAS KADER HMI (REFLEKSI MILAD HMI KE-65)

Oleh: BASHLUL HAZAMI  


Tulisan ini kiranya hanyalah ungkapan sederhana yang ingin penulis sampaikan dalam rangka memperingati milad HMI yang ke-65 sejak kelahirannya tanggal 5 Februari 1947 yang diprakarsai oleh Prof. Lafran Pane. Angka 65 tentu bukanlah angka yang kecil, artinya fluktuasi dinamika hingga puluhan tahun menjadi pengalaman tersendiri dalam keeksistensiannya menghadapi lika-liku perjalanan organisasi ini. Terangnya, semakin tua usia suatu organisasi semakin matang dan mantap pula kesiapan untuk menghadapi tantangan dan problematika yang semakin kompleks dewasa ini.
Terasa sangatlah kurang rasanya jika momen ini hanyalah digunakan sebagai formalitas kegiatan dan seremonial belaka. Menurut hemat penulis, milad ini haruslah menjadi momentum sakral, yakni sebagai momentum untuk refleksi bersama, berfikir sejenak memahami realitas faktual yang hinggap di tubuh HMI saat ini dengan tetap berekspektasi adanya kebangkitan dan perubahan signifikan dari organisasi ini. Refleksi ini adalah manifestasi rasa cinta kasih kepada organisasi yang turut andil dalam perjalanan hidup penulis yang kebetulan masih aktif menempa diri di HMI sebagai sikap optimis untuk turut menuangkan gagasan dalam membenahi organisasi ini secara bersama-sama. Refleksi ini haruslah dijadikan sebagai road map untuk menenggelamkan dan mengubur segala bentuk keterbelakangan dan kemunduran HMI yang hinggap saat ini menuju kemajuan dan kejayaan dalam menyongsong kehidupan yang lebih beradab dan bernilai.
Dalam konteks kehidupan yang bernilai, penulis melakukan pemilahan menjadi dua: Pertama, bernilai secara internal, yakni dinamika di dalam tubuh HMI haruslah menjadi piranti perkaderan, menjadi instrumen kesadaran bagi setiap anggota untuk menempa diri, membentuk karakter dan mentalitas kepribadian yang tangguh. Berani mengeksploitir diri untuk kebaikan pribadi dan anggota lainnya. Dan berhenti mengeksploitir diri karena penghambaan terhadap sesuatu yang nilainya lebih rendah, yakni karena pamrih dan menghilangkan unsur keikhlasan. Keikhlasan menjadi sarana untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, sebelum yakin usaha sampai untuk mewujudkan kemajuan dalam segala bidang, modal awal kader HMI dalam mengarungi segala bahtera dinamika dalam ber-HMI adalah bersyukur dan ikhlas di dalam berorganisasi. Sebagaimana bait awal yang ada di dalam lirik lagu Hymne HMI, Bersyukur dan Ikhlas, Himpunan Mahasiswa Islam, dan seterusnya, karya R.M. Akbar dari HMI Cabang Medan. Kedua, bernilai secara eksternal. Nilai ini merupakan kaidah yang tidak hanya menuntut kader HMI untuk mengabdikan diri kepada masyarakat yang lebih luas. Tetapi juga karena ini memanglah sudah menjadi kewajiban bagi kader HMI untuk menyebarkan dan memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan di dalam sendi-sendi kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Inilah cita-cita kader HMI untuk menjadi kader umat dan kader bangsa.
Dibalik itu semua, keadaan di lapangan ternyata tidak serta merta selalu manis dan elok seperti yang diidam-idamkan. Dari dinamika yang ada, antara baik dan buruk, pujian dan hinaan, manis dan pahit, hingga maju dan mundur silih berganti mengisi relung perkaderan di dalam tubuh HMI.
Pasca reformasi dan memasuki post-modern, degradasi yang terjadi di dalam jasad HMI tidak dapat dipungkiri adanya. Hal ini diperkuat oleh fakta-fakta yang menunjukkan kemunduran dan kemelorotan HMI yang disampaikan secara jelas dan terang oleh Prof. DR. Agussalim Sitompul (2005) dalam buku 44 Indikator Kemunduran HMI. Penyelidikan dan pembacaan kritis mengenai realita faktual oleh sejarawan HMI ini, kiranya akan sangat tidak berguna dan mubazir manakala tidak ada tindak lanjut yang pasti dan langkah kongkrit oleh kader-kader HMI.
Selain itu, kader HMI yang semestinya menjadi contoh baik dan tauladan bagi masyarakat luas, kini malah melakukan perbuatan yang tidak etis. Hal ini terbukti sebagaimana kasus pemukulan yang dilakukan oleh oknum fungsionaris PB HMI terhadap anggota Badan Pengelola Latihan (BPL) PB HMI berdasarkan pernyataan dari saudara Ahlan El- Faz (Anggota BPL PB/ teman korban) yang penulis temui 25 Desember 2011 kemarin. Ahlan mengatakan insiden pemukulan itu bermula ketika anggota BPL yang bertugas tidak meluluskan oknum tersebut dalam screening (penyaringan) calon peserta Advance Training (LK3) yang diselenggarakan oleh Pengurus HMI Badan Koordinasi (Badko) Jabodetabeka-Banten. Insiden ini sangatlah tidak pantas dilakukan oleh kader HMI, lebih-lebih yang melakukan tindakan yang tidak pantas ini adalah fungsionaris PB HMI yang notabene adalah sosok yang menjadi tauladan adik-adiknya, baik di kepengurusan Badko, Cabang, Korkom maupun di Komisariat. Selain itu ironisnya lagi oknum calon peserta LK3 itu mungkin tidak memahami bahwasanya tujuan diadakannya LK3 adalah untuk menelurkan kader-kader pemimpin yang mampu menerjemahkan dan mentransformasikan pemikiran konsepsional secara profesional dalam gerak perubahan sosial.
Yang tidak kalah mengejutkan, seperti yang diwartakan berita online, Kompasiana 27 Januari 2012, Ketua Umum PB HMI menzinai kader Kohati. Ini adalah berita yang menyakitkan hati kader HMI, sebagaimana pesan yang disampaikan oleh Mantan Ketua Umum PB HMI 1976-1979, Chumaidi Syarif Romas kepada penulis melalui short message service (sms). Hal ini tentu menimbulkan reaksi keras dari beberapa kalangan, baik dari anggota HMI maupun alumninya, Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI). Masalah ini tentu bukanlah masalah biasa. Jangan sampai masalah ini berlangsung secara berlarut-larut yang sudah barang pasti akan menambah banyak daftar penyakit yang hinggap dan mencederai organisasi ini. Semua komponen yang peduli akan organisasi ini tentu berharap agar masalah ini cepat reda dan organisasi ini bisa eksis kembali ke dalam fungsinya sebagai organisasi perkaderan dan perannya sebagai organisasi perjuangan, yang memperjuangan kebenaran, keadilan dan kebaikan dalam sendi-sendi kehidupan.
Telisik lebih dalam atas permasalahan ini, penulis berpendapat bahwa penyebab terjadinya kemunduran di HMI sekarang ini adalah karena terjadi penempatan posisi yang kurang pas dalam struktur kepengurusannya, baik dari tataran PB sampai tingkatan komisariat.
Hal ini mengakibatkan mandulnya program kegiatan yang positif dari berbagai bidang. Terjadinya kontrak-kontrak politik dan sistem kepemimpinan transaksional dalam pemenangan calon ketua umum baik pada saat kongres, musda maupun konfercab disinyalir sebagai penyebab memudarnya konsep “The right man on the right place” dalam sebuah organisasi yang menginginkan output yang berkualitas. Menurut Adam Ibrahim Indrawijaya (2010) dalam bukunya Teori, Perilaku, dan Budaya Organisasi: yang demikian itu adalah suatu bentuk konflik yang terjadi di dalam kelompok. Konflik ini biasa dikenal dengan konflik fungsional. Penyebab munculnya konflik ini adalah karena “task or goal incompatibility” atau karena adanya ketidakcocokan tugas atau tujuan yang harus dicapai.
Kesinambungan dan keterkaitan struktur kepengurusan terhadap berjalan atau tidaknya suatu organisasi merupakan suatu entitas yang mengharuskan adanya interaksi atau hubungan antara satu dengan lainnya. Hubungan antara satu dengan lainnya di dalam organisasi inilah yang disebut sebagai sistem. Sebagaimana pengertian sistem yang dikemukakan oleh J. H. R. Van De Poel: “… Systeem een verzameling elementen waartussen relaties bestaan” (Sistem-kumpulan elemen yang saling berinteraksi satu sama lainnya) (J. Winardi, 2004).
Apabila ditarik ke dalam HMI, sistem merupakan sebuah kesatuan dengan sejumlah komponen yang saling berinterelasi antara pengurus dengan pengurus yang lain, atau antara pengurus dengan anggota dimana perimbangan dan koordinasinya merupakan kunci bagi upaya memaksimalisasi kinerja pengurus dan mengoptimalisasi efisiensi secara keseluruhan dalam mewujudkan tujuan HMI.
Setelah memahami kondisi kekinian di HMI, tugas selanjutnya adalah keharusan mengadakan pembenahan yang sitematis mulai dari sekarang agar kedepannya HMI tidak semakin terjebak dan tertidur pulas dalam kubangan lumpur. Manakala ini tidak segera diperbaiki, maka bukan tidak mungkin HMI akan semakin tenggelam dan terpelosok ke jurang keterbelakangan.
Singkatnya, mentalitas kader HMI sekarang harus ditata ulang dan diformulasikan kembali. Pola pikir yang terlalu mengagungkan materi dan duniawi an sich harus diubah menjadi paradigma yang mengedepankan terbentuknya kepribadian yang tangguh dan responsif terhadap dinamika perubahan sosial yang ada serta profesional dalam mengemban amanah untuk muwujudkan masyarakat yang adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.
Sebagai penutup, semoga peringatan milad ini menggugah kita semua untuk berikhtiyar mewujudkan kedinamisan dan memunculkan kembali masterpiece (adikarya) baru yang lahir dari rahim HMI sebagaimana prestasi-prestasi yang ditorehkan abang-abang kita dahulu sejak HMI dilahirkan. Jayalah dan Dirgahayu Himpunan Mahasiswa Islam. Bahagia HMI! 


Penulis adalah Aktivis HMI Cabang Kediri/ Mahasiswa Ekonomi Islam STAIN Kediri

0 komentar:

Poskan Komentar